cerita yang terpaksa tamat gegara deadline
Aku dan Kamu
Pada pagi hari yang cerah dengan udara yang sejuk. Hari ini adalah hari
dimana aku harus memulai rutinitas seperti biasa sebagai pelajar. Hanya saja
sekarang aku menjadi murid sekolah menengah atas atau sma. Sekolahku yang baru
ini tidak terlalu berbeda dengan sekolahku yang lama walapun ada beberapa
bangunan yang tidak ada di sekolahku yang dulu. Seperti, ruang menza dan ruang
laboratorium bahasa. Sekolahku yang baru ini memiliki suasana yang nyaman. Ada
taman yang asri di halaman sekolahku yang dihiasi dengan berbagai tumbuhan yang
membuat taman tersebut sangat indah.
Setelah melakukan berbagai persiapan akhirnya hari ini adalah hari
dimana aku mulai mengikuti kegiatan mos atau orientasi murid. Tiga hari
mengikuti kegiatan mos aku tidak banyak berbicara selain menikmati suasana
sekolah yang nyaman dan sejuk.
“Hei,
jangan melamun terus”. Ucap seseorang yang ada didepanku
“Eh, iya…. Kamu siapa?”.
“kita kan satu kelas, masa kamu lupa”.
“Iya aku ingat tapi kita kan belum kenalan, namaku raka”.
“Oh, iya aku deva…. Aku mau ke kantin ikut ga?”.
“okaiii, ayoo”.
Pada hari pertama kegiatan mos murid-murid baru disuruh membawa benda
yang aneh. Seperti, tas dari kardus, topi dari kardus, dan nametag dari kardus.
Semuanya harus terbuat dari kardus. “siapapun yang tidak membawa barang diatas
akan diberi hukuman” ucap salah satu pengawas mos.
Setelah bersusah payah selama berjam-jam membuat benda-benda aneh yang
harus dibawa tadi. Akhirnya benda-benda tersebut telah selesai kubuat. Walaupun
bentuknya tidak terlalu bagus hehehe.
Pada keesokan harinya. Ada seorang murid yang tidak membawa satupun
barang yang disuruh oleh pengawas mos sehingga dia pun mendapat hukuman.
Hukumannya yaitu dia harus mengitari kelas tetapi dengan merangkak. Seisi kelas
pun tertawa karena hal tersebut.
Pada hari kedua mos. Murid baru disuruh membawa bekal makanan 4 sehat 5
sempurna dan susu. “besok kalian harus membawa bekal makanan 4 sehat 5 sempurna
dan susu karena besok kalian akan melakukan banyak kegiatan”. Ucap seorang
anggota pengawas mos.
Keesokan harinya. Aku lupa membawa bekal makanan dan susu karena aku
bangun kesiangan. Tetapi bukan aku saja yang tidak membawa bekal dan susu. Deva
juga tidak membawa bekal makanan dan susunya:v. Kita berdua pun dihukum.
Hukumannya yaitu kita harus meminta makanan pada murid lain menggunakan piring
sampai piring tersebut penuh dengan berbagai macam makanan yang ada dikelas:v.
Hari demi hari pun berlalu. Sampai saat perempuan bernama reina yang
duduk di depanku menarik perhatianku karena sikapnya yang berbeda dari yang
lain. Sikap reina tenang berbeda dengan
teman sebangkunya yang bawel. Wajahnya tidak terlalu cantik, kulitnya agak
pucat, tetapi pipinya yang chubby membuatnya kelihatan lucu seperti anak sd.
Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan agak kurus. Kacamatanya yang bulat dan
jam plastik ditangannya membuatnya makin terlihat lucu.
Suatu hari, sebelum bel masuk berbunyi, aku tak tahan lagi untuk menarik
kucir ekor kuda dirambutnya itu. Sekedar iseng. Ingin melihat reaksi dia.
“Aduh, apa sih!” Reina menoleh, matanya melotot jengkel. “Rakaa! Jangan
iseng deh”
“Lo suka sama wicak ya?”
“Idih enggak lah. Nuduh sembarangan”
“Bohong!” sambil kutarik lagi rambutnya
“Rakaaaaa!” Reina bangkit dari bangkunya, menghampiriku. Lalu, meninju
bahuku dan mengacak-acak rambutku. Aku kaget dengan reaksinya yang tidak biasa
itu. Kupikir dia hanya akan melotot dan menyemburkan kata-kata pedas lalu
memunggungiku lagi.
Dia bukan cewek biasa
Dan, cewek yang tidak biasa itu sekarang sedang berdiri didepanku sambil
bertolak pinggang dengan wajah puas setelah berhasil membuat rambutku seperti
habis diterpa badai.
Lalu, Reina tertawa, Tampak manis dengan pipinya yang chubby dan tawanya
yang lucu seperti anak-anak.
Dan, entah kenapa aku ikut tertawa bersamanya. Aku mulai membanyankan
Reina akan jadi teman yang mengasyikkan pada hari-hari mendatang. Sekolah tidak
akan lagi terasa membosankan.
Apakah Reina jatuh cinta atau hanya sekedar kagum kepada wicak, aku
tidak ingin repot-repot mencari tau, yang kutau, dia terpesona pada cowok itu.
Mana mungkin enggak. Wicak Adi Sulistyo, anak kelas tiga yang tinggi, keren,
pendiam, dan jago futsal. Kesan pendiamnya akan langsung menghilang ketika ia
tertawa.
Seperti cewek-cewek penggemar wicak lainnya. Reina suka menonton wicak bermain
futsal. Kadang ketika semua temannya pulang dan lapangan dikuasai anak kelas
satu, wicak dan beberapa sahabatnya malah bermain futsal dulu.
Anak-anak perempuan kelas satu akan berkerumun di pinggir lapangan
futsal, mencuri-curi pandang pada anak kelas tiga, sambil pura-pura mengobrol
menunggu bunyi bel masuk berbunyi. Yang jendela kelasnya menghadap ke lapangan futsal dan kebetulan
duduk dekat jendela, akan mencuri-curi lihat ke luar sambil berusaha menyimak
pelajaran.
Reina yang duduk dekat jendela diam-diam suka memandang ke arah lapangan
futsal jika wicak sedang bermain futsal bersama temannya. Ia tidak sadar jika
kebiasannya itu selalu kuperhatikan.
Aku masih heran kenapa cewek sepertinya ikut-ikutan mengidolakan wicak.
Aku mengusulkan sesuatu ke Reina.
“Kalo lo suka sama wicak, kirim surat aja. Taruh di laci meja,” ucapku
pada Reina. “Besok paginya, pasti wicak liat surat itu kalau dia mau nyimpen
tas di laci.”
“Nggak deh, sori. Buat apa gua ngirim surat buat dia.”
“Masih pura-pura aja deh, nih anak!” kurebut buku yang sedang dia baca.
“cepet tulis surat”
“Rakaaaaaa! Kembaliin buku
gueee!” dia mencoba merebut buku itu, tapi aku menghindar. “Rakaaa! Awas lo ya!” kita berdua pun kejar-kejaran di
sepanjang koridor.
Acara kejar-kejaran itu menjadi kebiasaan ketika aku dan dia menjadi
akrab. Aku akan lari disepanjang koridor, sesekali melihat kebelakang sambil
tertawa. Reina memburuku sambil cemberut setengah tertawa.
Anak-anak kelas satu yang lain mulai terbiasa dengan pemandangan itu.
Lagian, disekolah ini, bukan cuma aku dan dia yang bertingkah kekanak-kanakan
begitu. Anak –anak yang lain juga suka bercanda sambil kejar-kejaran di
sepanjang koridor kelas.
Hari demi hari berlalu, Aku dan Reina makin akrab. Kami menonton bioskop
bersama, pergi ke toko buku, makan bareng sehabis pulang sekolah dan banyak hal
yang mengasyikkan yang kita lakukan berdua.
Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan si ekor kuda. Masalahnya kalau
akhirnya aku mengungkapkan perasaanku pada Reina, aku tidak yakin jawaban apa
yang akan diberikan si ekor kuda itu.
Sampai hari itu, hari dimana rutinitas yang menyenangkan tersebut harus berakhir. Aku
harus pindah sekolah mengikuti kedua orang tuaku. Hal ini membuatku sedih karena
aku harus berpisah dengan dia.
Dia yang membuat hari-hariku
jadi penuh warna. Dia yang selalu mengisi hari-hari disekolahku dengan berbagai
hal mengasyikkan. Begitulah makna sahabat, seseorang yang membuatmu rindu,
membuatmu tersenyum diam-diam ketika mengingatnya. Aku yang telah jatuh cinta
kepadamu dalam kebersamaan hari-hari kita.
Waktu berlalu. Tiba-tiba, aku
merasa persahabatan kita seolah-olah tidak pernah ada.
Tetapi, aku tidak pernah
melupakan reina. Aku selalu memikirkan reina dengan penuh kerinduan. Pada suatu
hari ketika aku sedang berdiri di halaman rumahku. Tiba-tiba terdengar suara
seorang perempuan memanggilku, suara yang sangat kukenal. Akupun menoleh kearah
dimana suara tersebut berasal. Awalnya kami hanya saling menatap, lalu
seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang mendorong aku dan dia berlari
mendekat.
“Reina?”
“Hai, Raka”
Di tepi jalan itu. Aku
memeluknya erat, mengayun-ayun badannya.reina merasakan guncang tawa tertahan
di dadanya
Segalanya terasa absurd saat
kita berdua berpelukan. Kita berdua masih terus berpelukan sampai beberapa
pejalan kaki di sekitar bersiul-siul iseng.
Aku masih menyimpan
perasaanku untuk reina. Cinta yang sekian lama sengaja ku kubur itu naik lagi
ke permukaan.
Sekarang, seharusnya adalah
saat yang tepat untuk mengatakan perasannya. Sudah tidak ada lagi beban.
“Na,
aku mau ngomong” aku berkata pelan. Dadaku berdebar-debar tak karuan. Betapa
lamanya aku menunggu kesempatan ini. Betapa beratnya aku terus membawa perasaan
yang tak bisa lepas ini.
“Ngomong apa?” Reina
menatapku dengan senyum polos
“Aku sayang sama kamu,
Na...”
“Aku juga sayang sama kamu,
Rak, Cuma kamu selalu aja mikir kalo aku suka sama wicak”
“Iya, maaf naa, aku takut
kalo perasaan kamu ke aku cuma sebatas temen”
“Aku juga minta maaf, aku
baru sadar betapa pentingnya kamu, setelah terlambat untuk mengatakannya
langsung sebelum kamu pergi
“Ngga ada yang terlambat,
na. Buktinya kita ada disini, karena itu, kamu janji ya.. mulai sekarang jangan
pernah lagi menyimpan perasaan kamu. Kamu harus mengatakan dengan jujur apa
yang kamu rasakan ke aku. Oke?” Ucapku sambil meraih tangan Reina
Reina tertegun, tapi
langsung berkata “Oke”
Kugenggam tangannya dengan erat seperti tidak akan
pernah kulepaskan lagi tangan ini seumur hidupku.
“Ya, Aku dan Kamu. Sekarang kita seperti
itu.” Kita berdua tersenyum bahagia Aku
dan kamu. Kita jadian.
Cerpen karya :
Adhimas Dylan
Kelas :
XI MIPA 4
Komentar
Posting Komentar